Pencegahan Cyberbullying Terhadap Peserta Didik Dalam Pembelajaran Sehari-hari Melalui Sarana Digital di SMA Negeri 5 Tambun Selatan
Oleh: Rayyan Husni Firdaus, Arifa Kirana, Naureen Ashadiya Ardisty
Penyebab:
Cyberbullying atau perundungan di dunia maya merupakan salah satu masalah yang semakin sering terjadi di kalangan remaja, terutama di lingkungan sekolah yang para siswanya aktif menggunakan internet dan media sosial. Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi sangat mudah dan cepat, tetapi di sisi lain juga membuka peluang munculnya perilaku negatif seperti menghina, mengejek, menyebarkan rumor, atau mempermalukan seseorang melalui platform digital. Salah satu penyebab utama cyberbullying adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman mengenai etika berinternet. Banyak siswa yang belum sepenuhnya memahami bahwa komentar, pesan, atau unggahan yang mereka buat di media sosial dapat berdampak besar terhadap perasaan orang lain. Karena komunikasi terjadi secara tidak langsung melalui layar, sebagian orang merasa lebih bebas mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan mereka ucapkan secara langsung.
Selain itu, anonimitas atau perasaan anonim di internet juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya cyberbullying. Ketika seseorang merasa identitasnya tidak terlihat atau sulit dilacak, mereka cenderung merasa lebih berani untuk melakukan tindakan negatif tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Faktor lain yang sering memicu cyberbullying adalah tekanan dari lingkungan pertemanan. Dalam beberapa kasus, seseorang melakukan perundungan hanya karena ingin diterima dalam kelompoknya atau mengikuti perilaku teman-temannya. Candaan yang awalnya dianggap ringan dapat berubah menjadi bentuk perundungan ketika dilakukan secara terus-menerus atau ketika isi candaan tersebut menyangkut penampilan, latar belakang, atau kelemahan seseorang.
Penyebab lainnya adalah rendahnya empati dan kemampuan memahami perasaan orang lain. Ketika seseorang tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan korban yang menerima komentar negatif secara terus-menerus, mereka cenderung menganggap perbuatannya sebagai sesuatu yang biasa saja atau hanya sekadar hiburan. Selain itu, kurangnya pengawasan dan edukasi tentang penggunaan teknologi juga dapat memperbesar risiko cyberbullying. Tidak semua siswa mendapatkan bimbingan yang cukup tentang cara menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Akibatnya, mereka mungkin tidak menyadari bahwa tindakan seperti menyebarkan foto tanpa izin, membuat komentar menghina, atau menyebarkan rumor di internet termasuk dalam bentuk cyberbullying.
Dampak:
Dampak cyberbullying tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang dalam jangka panjang. Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah gangguan kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, dan rasa takut. Korban cyberbullying sering merasa tertekan karena komentar atau pesan negatif yang mereka terima dapat dilihat oleh banyak orang di internet. Situasi ini membuat korban merasa dipermalukan di depan publik dan kehilangan rasa aman ketika menggunakan media sosial.
Selain itu, cyberbullying juga dapat menyebabkan penurunan rasa percaya diri. Ketika seseorang terus-menerus menerima kritik, ejekan, atau hinaan, mereka bisa mulai mempercayai hal-hal negatif yang dikatakan oleh pelaku. Hal ini dapat membuat korban merasa tidak berharga, merasa dirinya tidak cukup baik, atau bahkan merasa tidak pantas berada di lingkungan sosial tertentu. Dalam lingkungan sekolah, kondisi ini dapat menyebabkan siswa menjadi lebih tertutup dan menarik diri dari pergaulan. Mereka mungkin menghindari berinteraksi dengan teman-temannya karena takut kembali menjadi bahan ejekan.
Dampak lainnya adalah terganggunya proses belajar dan prestasi akademik. Siswa yang mengalami cyberbullying sering kali sulit berkonsentrasi dalam pelajaran karena pikirannya dipenuhi oleh perasaan sedih, marah, atau cemas. Mereka mungkin juga merasa tidak nyaman berada di sekolah, terutama jika pelaku cyberbullying berasal dari lingkungan yang sama. Dalam kasus yang lebih serius, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan mental yang lebih berat, seperti depresi atau keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, cyberbullying bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele, karena dampaknya dapat memengaruhi kehidupan seseorang secara luas.
Selain berdampak pada korban, cyberbullying juga dapat memberikan dampak negatif bagi pelaku. Seseorang yang terbiasa melakukan perundungan dapat mengembangkan pola perilaku agresif dan kurang empati terhadap orang lain. Jika tidak ditangani dengan baik, perilaku tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka berinteraksi dalam masyarakat. Lingkungan sekolah juga dapat terkena dampaknya, karena cyberbullying dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman dan tidak aman bagi siswa.
Cara Mengatasi:
Untuk mengatasi cyberbullying, diperlukan upaya bersama dari siswa, guru, sekolah, serta orang tua. Salah satu langkah yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran tentang etika dan tanggung jawab dalam menggunakan internet. Siswa perlu memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan di dunia maya memiliki dampak nyata terhadap orang lain. Oleh karena itu, sebelum menulis komentar atau membagikan sesuatu di media sosial, penting untuk berpikir terlebih dahulu mengenai konsekuensi dari tindakan tersebut.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mendorong siswa untuk saling menghormati dan menjaga sikap positif di dunia digital. Budaya saling menghargai perlu dibangun agar setiap orang merasa aman dan nyaman ketika berkomunikasi di internet. Sekolah juga dapat berperan aktif dengan memberikan edukasi mengenai literasi digital, sehingga siswa dapat memahami cara menggunakan teknologi secara bijak serta mengetahui risiko yang mungkin muncul dari penggunaan media sosial.
Jika seseorang menjadi korban cyberbullying, penting bagi mereka untuk tidak membalas dengan perilaku yang sama. Membalas komentar negatif dengan kata-kata kasar justru dapat memperburuk situasi. Sebaliknya, korban sebaiknya menyimpan bukti perundungan, seperti tangkapan layar pesan atau komentar, kemudian melaporkannya kepada guru, konselor sekolah, atau pihak yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Dukungan dari teman-teman juga sangat penting untuk membantu korban merasa tidak sendirian menghadapi situasi tersebut.
Sekolah dapat mengambil langkah pencegahan dengan menciptakan kebijakan yang jelas mengenai perundungan, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui internet. Selain itu, kegiatan seperti seminar, diskusi, atau kampanye anti- cyberbullying dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga perilaku di dunia digital. Dengan adanya kerja sama antara semua pihak, lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa secara positif.
Sumber:
1. Jurnal: Dampak Cyberbullying pada Remaja – Alauddin Scientific Journal of Nursing https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/asjn/article/view/176u48
2. Jurnal: Remaja, Media Sosial dan Cyberbullying – KOMUNIKATIF: Jurnal IlmiahKomunikasi https://journal.ukwms.ac.id/index.php/KOMUNIKATIF/article/view/991

